Kegagalan dan bagaimana aku melewatinya

Aku percaya bahwa kegagalan merupakan bagian dari sebuah proses menuju keberhasilan. Aku memutuskan untuk menceritakan hal-hal gagal apa saja yang pernah atau sedang aku lewati dalam kurun beberapa waktu belakangan ini. Mungkin sedikit berat untuk berbagi cerita ini karena aku ibarat aku harus mengulik 'luka lama', namun aku harap kalian bisa mengambil hal positifnya.

Tahun 2017 : Awal dari sebuah langkah

Tahun ini merupakan tahun pertama bagiku untuk benar-benar memutuskan keluar dari zona nyaman. Aku masih duduk di bangku kelas 11. Saat itu aku tengah menjadi remaja yang labil dengan hobi 'ikut-ikutan temen'. Sekolahku saat itu dapat dikatakan cukup bagus karena banyak event atau pun kegiatan-kegiatan yang dapat diikuti.

Salah satunya adalah MPK dan OSIS. Siapa bilang aku bukan anggota MPK OSIS karena tidak mendaftar? Salah. Aku bukan menjadi bagian dari MPK OSIS karena aku tidak diterima. Saat itu sebenarnya aku cukup gundah untuk memutuskan mengikuti rangkaian seleksi. Namun, aku dan teman dekatku saat itu (bertiga) akhirnya mencoba untuk mendaftar.

Aku dan kedua temanku termasuk anak yang rajin untuk mengikuti semua tuntutan agar diterima menjadi bagian dari OSIS (saat itu aku memilih OSIS bukan MPK). Kita bertiga selalu aktif dan menuruti perintah yang disampaikan oleh kakak kelas. Mulai dari jadi panitia kebersihan di acara 17an hingga mengikuti rangkaian seleksi akhir yaitu interview dan forum group discussion (FGD).

Aku saat itu hanyalah sosok Nadya yang pemalu, jarang bergaul dengan teman di luar kelas, dan takut untuk berbicara di depan orang banyak. Tapi, aku bermimpi untuk menjadi anggota OSIS, hahaha. Sangat tidak relevan. Bahkan beberapa teman lain di OSIS merendahkanku dan mengatakan bahwa aku memang tidak pantas menjadi anak OSIS. Cukup sedih mendengarnya. Tapi faktanya? Ya, aku memang gagal. Aku dan kedua teman dekatku kita bertiga sama-sama gagal. Sama-sama direndahkan pula. Malu? pasti. Trauma? pasti. Tapi, aku bangga dengan diriku yang sudah mau berjuang dan bertahan walau pada akhirnya tidak berujung manis. Setidaknya aku telah melawan rasa takutku untuk mencoba.

Tahun 2018 : Masih ingin mencoba

Beberapa bulan kemudian, aku masih belum berhenti untuk kembali mencoba 'mempermalukan diri'. Aku mencoba untuk mendaftar organisasi lain di sekolahku. Bisa dibilang ini merupakan suatu organisasi akademis yang mempersiapkan anggotanya untuk mengikuti kompetisi. Aku saat itu mendaftar karena tertarik pada salah satu kompetisi, yaitu KOMPek FEB UI. Sekolahku selalu memenangkan kompetisi ini di setiap tahunnya. Oleh karenanya, sekolahku cukup ketat untuk menyaring pendaftar yang hendak ingin mengikuti lomba tersebut.

Tanpa basa-basi dan pertimbangan panjang, aku segera mendaftar. Tes tahap 1 berupa tes tulis mengenai soal-soal TPA, matematika, dan sedikit ekonomi dasar. Peserta yang mengikuti tes tersebut cukup banyak. Hampir sekitar 100 orang. Keesokan harinya aku mendapatkan pengumuman bahwa aku lolos ke tahap selanjutnya yaitu interview. Sangat mendadak. Saat itu bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tiba-tiba aku diberi kabar bahwa di hari itu pula interview diadakan. Kalau kita tidak datang, maka otomatis kita gugur.

Tanpa persiapan apa-apa akhirnya aku memberanikan diri. Sangat grogi dan panik. Aku memang benci situasi di mana aku harus berdiri sendiri dan berbicara mengenai diriku. Alias aku benci presentasi dan aku benci wawancara. Aku juga benci FGD. Aku selalu merasa aku tidak memiliki ruang untuk berbicara. Aku takut.

Tibalah giliranku untuk memasuki ruangan interview. Interviewer-nya bukan guru dari sekolahku, melainkan alumni yang juga menjadi pengurus organisasi tersebut. Aku merasa cukup berantakan. Aku berbicara terbata-bata dan tidak merasa puas dengan jawabanku. Ternyata??? Aku masih diberikan kesempatan untuk lanjut ke tahap berikutnya, yaitu self-talking video. Aku sangat lega dan bersyukur.

Singkat cerita akhirnya aku berhasil menjadi partisipan di kompetisi tersebut. Kami dibentuk menjadi beberapa tim. Aku ikut di cabang lomba Business Challenge Competition bersama dengan dua rekanku yang lain. Namun sayangnya, timku belum berkesempatan untuk menang. Sedih tapi aku cukup lega karena sudah berjuang sejauh ini. Serta aku mendapatkan bonus untuk bergabung dengan organisasi tersebut (sebenarnya melewati serangkaian tes lagi). Tapi aku berhasil untuk melewatinya. Waktu demi waktu masih berjalan. Aku juga mengikuti beberapa lomba lainnya, tapi kemenangan masih tak kunjung datang. Tapi, aku tetap senang karena setidaknya aku punya cerita untuk dikenang dari kegagalan-kegagalan tersebut.

Tahun 2019 : Lingkungan baru, pengalaman baru

Tahun ini merupakan tahun di mana aku membungkus masa-masa SMA ku. Masa-masa SMA ku tidak terlalu manis untuk dikenang. Jadi, aku tidak begitu berat untuk meninggalkannya. Mungkin sebagian kecil yang masih aku rindukan adalah sahabat-sahabatku. Namun, sahabatku juga jumlahnya dapat dihitung dengan jari, alias sedikit. Hihihi. Sisanya, aku tidak begitu rindu dengan yang lainnya.

Aku diberikan hadiah terbesar yang mungkin diidamkan oleh seluruh siswa yang masih duduk di bangku SMA, yaitu SNMPTN. Kalian bisa membaca ceritaku tentang bagaimana aku bisa diterima di jalur SNMPTN di sini. Sebenarnya, jurusanku saat ini bukan merupakan jurusan impianku selama ini. Aku memiliki beberapa pertimbangan saat itu. Namun, pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap memilih. Aku pernah merasa bingung, apakah dengan mendapatkan SNMPTN adalah sebuah keberhasilan atau justru kegagalan? Aku merasa berhasil karena usahaku selama 3 tahun di SMA tidak sia-sia. Di saat yang bersamaan, aku juga merasa gagal karena aku tidak diterima di jurusan impianku (aku mendaftarkan diri pula dengan jalur lain, namun aku gagal). Beberapa dari kalian mungkin bertanya, "kalau nggak suka sama jurusannya ngapain daftar?" jawabannya adalah banyaknya pertimbangan yang aku pertimbangkan saat itu. Nasi sudah menjadi bubur. Aku yang menetapkannya sendiri.

Perkuliahan terasa cukup pahit di awal. Namun, lama kelamaan cerita-cerita manis mulai mengisi hari-hariku. Di semester awal aku cukup disibukkan oleh berbagai kegiatan maba. Salah satunya adalah kepanitiaan. Saat itu, aku dan kedua temanku (lebih tepatnya teman SMAku yang kita sama-sama sefakultas) berjanjian untuk mendaftar salah satu kepanitiaan di tingkat fakultas. Kami bertiga memilih divisi yang sama. Dengan harapan agar kami dapat bekerja bersama-sama di hari H nanti. Kalau kepanitiaan di kampus sih biasanya rangkaian seleksinya berupa wawancara singkat. Jadi, saat itu aku dan temanku sudah mengisi form untuk pendaftaran kepanitiaan. Lalu, kami mengisi jadwal wawancara dan melakukan wawancara dengan panitia terkait.

Hari di mana aku wawancara merupakan pertama kalinya aku merasakan wawancara di dunia perkuliahan. Aku cukup deg-degan pada awalnya. Aku sempat berpikir bahwa wawancaranya akan dilakukan di suatu ruangan dan nanti kita berdiri di depan interviewer-nya. Ternyata tidak, wawancara yang dimaksud kurang lebih seperti ngobrol dan berbincang. Pertanyaannya tidak jauh dari seputar diri kita sendiri dan beberapa pertanyaan studi kasus. Aku dan kedua temanku sudah berjanjian untuk menolak jika dipindahkan ke divisi lain. Baiklah, wawancara hari itu berlangsung dengan cukup lancar. Sejujurnya aku juga tidak terlalu puas dengan performaku, namun setidaknya aku cukup lega. Tinggal menunggu pengumuman.

Beberapa minggu kemudian, terbitlah pengumuman staf. Aku mencari namaku di divisi yang aku tuju dan divisi lainnya. Ternyata namaku tidak ada. Namun, nama kedua temanku ada. Jujur, aku sangat sedih dan kecewa. Hari itu aku merasa sangat gagal. Aku menanyakan ke beberapa temanku yang lain yang juga mendaftar kepanitiaan yang sama, banyak dari mereka diterima. Aku semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri. Kegagalan tersebut ternyata menyimpan sedikit trauma dalam benakku. Aku jadi semakin tidak percaya diri untuk mendaftar kepanitiaan atau pun organisasi lainnya.

Hari demi hari berlalu. Aku sudah mulai bangkit. Aku memutuskan untuk aktif di tingkat departemen terlebih dahulu. Semua kepanitiaan di departemen aku ikuti dan aku diterima (sebenarnya karena peminatnya juga tidak terlalu banyak). Namun, aku cukup merasa senang dan lega. Setidaknya aku masih bisa menyalurkan kontribusiku walau di ruang lingkup yang lebih kecil.

Tahun 2020 : Semakin terbiasa

Setengah dari tahun 2020 yang sudah berlalu ternyata belum dapat menjadi tahun keberhasilanku. Walaupun aku sudah cukup banyak mencicipi kegagalan, ternyata kegagalan itu masih mengikutiku. Aku mendaftarkan diri ke dua jenis kepanitiaan di kampusku. Berhubung tahun 2020 adalah tahun di mana segalanya berubah menjadi daring, jadi wawancara yang dilaksanakan juga berlangsung daring melalui platform video conference. Tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya, setelah wawancara datanglah pengumuman. Faktanya? aku tidak diterima di dua kepanitiaan tersebut. Sedih? nggak sih. Aku merasa biasa saja. Apa karena aku sudah terbiasa?

Selama pandemi aku juga sempat mengikuti beberapa kompetisi. Aku mengikuti dua kompetisi video dan satu kompetisi essay. Aku cukup semangat pada awalnya. Aku mengusahakan yang terbaik yang dapat aku lakukan. Aku juga cukup percaya diri. Namun, ketika pendaftarnya semakin banyak dan aku melihat mereka semua sangat bagus, rasa percaya diriku jatuh. Ternyata benar, aku lagi-lagi gagal.

Beberapa minggu kemudian, aku mencoba mendaftarkan diri ke beberapa program volunteer dan virtual internship di luar kampus. Seleksinya berupa seleksi berkas dan wawancara. Untuk tahap seleksi berkas, aku masih diberikan kesempatan untuk lolos. Namun, saat wawancara ternyata aku masih gagal. Padahal, aku sudah latihan dan menyiapkan jawaban yang terbaik dan telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sayangnya, hal tersebut ternyata belum cukup.


Dari berbagai cerita kegagalan yang telah aku lalui membuatku tersadar. Bahkan ketika aku sudah merasa cukup baik dan maksimal, aku masih tetap gagal. Tetapi hal tersebut menyadarkanku untuk terus tumbuh dan berkembang. Kegagalan di hari ini mungkin merupakan sebagian kecil dari cerminan kemampuanku saat ini. Aku sudah lebih baik dari aku yang kemarin. Namun, masih ada aku dengan versi yang lebih baik di masa depan. Aku akan terus mengejar untuk menjadi 'versi lebih baik' tersebut.

Comments

Popular Posts