Love Letter?
Sebuah kisah unik yang aku alami. Sebenarnya ini bukan kali pertamaku untuk membuat sebuah "surat cinta". Mungkin ketiga kalinya. Ya, aku memang bodoh. Di umur 18 tahun, aku masih terbiasa untuk menulis diary, bahkan membuat surat cinta bodoh yang mungkin akan aku kirim ke orang yang sedang aku sukai.
Beberapa hari yang lalu aku menulis suatu hal kecil, seperti sebuah pesan untuk salah satu cowo teman anggota kelompokku. Saat itu kelompok kami sedang membuat sebuah laporan dan kami mengerjakannya secara bersama-sama di google docs. Aku pikir dia sedang tidak mengerjakan dan tidak pula aktif di LINE nya. Tiba-tiba pikiran bodoh melewati otakku, aku terpikir untuk meninggalkan sebuah pesan di salah satu struktur bagian laporan, yaitu lampiran. Beberapa hari yang lalu ia mengerjakan bagian itu bersamaku dan ia belum menyelesaikannya.
Aku menulis beberapa kalimat yang berisikan kata-kata semangat dan sebuah ungkapan bahwa aku mengaguminya. Dengan harapan bahwa jika ia membuka dan melanjutkan tugasnya, ia akan membacanya. Sebenarnya aku sedikit khawatir, bagaimana jika yang membacanya adalah anggota kelompokku yang lain? ah sudahlah kayaknya nggak mungkin itu yang ada dibenakku saat itu. Aku begitu percaya diri bahwa pesan ini akan sampai di tatapannya, tanpa memikirkan risiko-risiko yang mungkin akan datang.
Keesokan harinya aku tidak memikirkan mengenai hal itu lagi. Aku cuek dengan melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya. Saat malam pun tiba, tiba-tiba di grup kelompokku salah satu teman cowo anggota kelompok yang lain mengirimkan foto berupa screenshot dari pesan yang aku masukkan di google docs. Temanku itu malah me-mention si orang yang aku kirimkan pesan ini. Aku panik. Aku benar-benar malu kalau sampai satu kelompok ini mengetahui tulisan yang aku tulis. Padahal seharusnya aku tahu bahwa itu risiko yang mungkin akan aku dapatkan.
Aku langsung buru-buru menelpon temanku itu dan memintanya untuk meng-unsend yang ia kirim barusan. Lalu, aku ditertawai olehnya karena kata-kataku yang begitu manis. Tidak hanya dia, ternyata ada satu anggota lain pula yang dengan sigap membaca grup sehingga ia melihat pesanku. Aku ditertawai pula di grup. Namun, untungnya orang yang aku kirimi pesan ia belum membaca grup, serta dua anggota lainnya juga belum membacanya.
Aku benar-benar malu. Tulisan yang aku ekspektasikan akan tersampaikan akhirnya terpaksa aku hapus daripada nanti menjadi bahan cibiran bagi kedua teman cowokku ini. Lalu, aku mengirimkan pesan kepada dua temanku tersebut agar mereka tetap diam dan bertindak seakan-akan ini tidak pernah terjadi. Ya, aku tidak tahu apa aku bisa memercayai mereka atau tidak. Mereka hanya tertawa melihat tingkahku.
Kurang lebih seperti itu kegagalanku untuk mengirimkan surat yang kesekian kalinya. Pada pengalaman mengirim surat cinta sebelumnya, aku juga pernah menulis surat untuk seseorang. Namun, aku membuatnya dalam bentuk kertas. Aku mengawalinya dengan mengirimkan pesan melalui LINE untuk mengajaknya bertemu, agar aku dapat memberikan surat dan beberapa hadiah lain. Namun, sayangnya ia tidak membalas pesanku secara sengaja. Hal ini berarti bahwa ia menolaknya. Aku cukup sedih dan kecewa. Padahal momen tersebut dapat dikatakan menjadi satu-satunya momen terakhirku untuk bertemu dengannya secara langsung.
Terkadang aku berpikir bahwa apakah diriku terlalu tua untuk tidak pernah merasakan hati yang berbunga-bunga? Aku selalu berpikir apakah aku seburuk itu? dan hal yang lucu adalah aku sedikit iri melihat teman-temanku yang sudah memiliki pasangan. Kadang pula aku merasa membutuhkan support system yang berbeda dari biasanya. Ya, namun aku juga paham bahwa sejatinya aku harus tetap bersyukur karena setidaknya ada teman dan keluarga yang masih selalu ada. Hihi!
Comments
Post a Comment