Penanggulangan Bencana dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Tanpa kita sadari, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya untuk meningkatkan mutu pendidikan, mempermudah komunikasi, namun dapat pula menjadi sebuah alat untuk menyelamatkan korban bencana. Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, dan masih banyak lagi. Lalu, apa peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menanggulangi bencana alam yang terjadi?
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa, dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, hubungan komputer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Selain itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dimaknai pula sebagai media berupa teknologi seperti komputer dan jaringannya yang dapat digunakan untuk proses pengolahan dan pemprosesan data yang berguna untuk pemanfaatan berbagai bidang sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain.
            Saat ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi bencana, baik bencana tsunami maupun bencana alam yang lainnya, seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Indonesia termasuk negara yang rawan dengan terjadinya bencana alam. Salah satu faktor penyebabnya adalah letak geografis Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Filipina. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin Api Pasifik membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara, dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan.
Selain itu, jumlah gunung berapi mencapai 129 buah dengan 79 di antaranya bertipe A (sangat aktif), sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana alam. Bahkan, data UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) menyebutkan risiko bencana yang dihadapi Indonesia sangatlah tinggi. Potensi bencana tsunami di Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia, dan risiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jepang. Dalam hitungan UNISDR, ada 5.402.239 orang yang berpotensi terkena dampaknya. Integrasi berbagai teknologi sangat dibutuhkan untuk membantu menanggulangi dampak bencana alam yang terjadi.



Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki peran penting dalam proses penanggulangan bencana alam, seperti halnya pada saat bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh di akhir tahun 2004 di mana seluruh sarana komunikasi terputus pada saat itu. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), terutama internet menjadi media yang pertama kali menghubungkan Aceh dengan dunia luar, sehingga beragam informasi dari Aceh dapat dipublikasikan ke luar Aceh hingga mendunia.
Internet dapat dimanfaatkan sebagai media untuk berkomunikasi, baik melalui e-mail, chatting, maupun forum publik hingga bertelponan, seperti saat terjadi bencana tsunami di Aceh, dengan internet, relawan dapat berkomunikasi via e-mail ataupun ngobrol dengan menggunakan internet messenger seperti Yahoo Messenger ataupun MSN Messenger dengan induk organisasinya untuk berkoordinasi terkait kebutuhan logistik, laporan kondisi, dan info penting lainnya, begitu pula dengan jurnalis. Ia dapat mengirimkan berita ke kantornya yang berada di kota yang berbeda dalam waktu yang singkat.
Selain itu, internet dapat pula dimanfaatkan untuk menjadi media publikasi informasi, baik melalui website ataupun mailinglist, sehingga masyarakat di seluruh dunia dapat menjangkau informasi yang dibagikan. Berita-berita terkini pun bisa diakses dengan cepat melalui website. Selain itu, dengan internet dapat pula melakukan penggalangan dana bantuan dan meng-update perkembangan-perkembangan terkini terkait bencana alam.
Teknologi Informasi dan Komunikasi diperlukan sebagai alat mitigasi bencana baik sebelum, sedang, ataupun setelah terjadinya bencana. Di sinilah peran teknologi kembali dibutuhkan, sistem informasi yang akurat, real time, dan stabil sangat dibutuhkan. Sistem informasi ini harus dibangun menyesuaikan dengan tiap-tiap kondisi lapangan yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Sistem tersebut membutuhkan data lapangan yang spesifik dan lengkap, terintegrasi dengan teknologi-teknologi kebencanaan yang ada (misalnya teknologi peringatan dini), dan melibatkan rencana atau prosedur penyelamatan yang baik serta efektif. Setiap daerah perlu membuat sistem ini dengan teliti karena setiap daerah punya kondisi dan karakter yang berbeda sehingga setelah peringatan dini bencana, masyarakat tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri dan mengurangi risiko atau korban.
Data yang terkumpul sangat menentukan bagaimana langkah penyelamatan selanjutnya. Untuk mendapatkan data lapangan yang akurat dan real time bisa menggunakan wireless sensor network (WSN). Teknologi ini bisa menggabungkan ratusan, bahkan ribuan jumlah sensor untuk mengumpulkan data, dan antarsensor saling terhubung secara nirkabel. Teknologi tersebut sangat tepat untuk membangun sistem monitoring, melengkapi sistem monitoring menggunakan satelit (penginderaan jarak jauh) yang banyak digunakan. Sistem satelit akan cukup terganggu saat cuaca buruk, dan tidak dapat mengukur parameter fisik (seperti suhu, kadar gas tertentu, dan getaran) secara akurat. Namun, sistem satelit dapat diandalkan sebagai monitoring pada skala luas. Gabungan antara WSN dan satelit menjadikan diperoleh data lapangan dengan lengkap dan akurat. Setelah sistem informasi, pekerjaan berikutnya ialah menyiapkan sistem komunikasi karena informasi atau petunjuk yang penting tersebut harus disampaikan kepada masyarakat luas.
Kendala yang muncul biasanya ialah sistem komunikasi yang ada ikut rusak, utamanya ialah sistem komunikasi seluler. Maka, perlu disiapkan sarana komunikasi darurat bencana. Sistem ini harus siap dioperasikan segera setelah terjadi bencana dan mudah diakses masyarakat, misalkan menggunakan sistem komunikasi satelit yang digabungkan dengan radio atau wi-fi. Perangkat komunikasi satelit digunakan untuk koneksi ke jaringan komunikasi utama dan masyarakat mengakses menggunakan radio atau wi-fi karena perangkat ponsel yang ada umumnya mendukung wi-fi dan tidak mendukung akses langsung ke komunikasi satelit. Alternatif lain ialah menggunakan Manet (Mobile Ad-Hoc Network) yang dapat mengirimkan data secara estafet dari satu perangkat ke perangkat lainnya sehingga data bisa sampai pada tujuan. Penelitian dalam social-network membuktikan pergerakan manusia dapat dimanfaatkan untuk aplikasi Manet.
Tanggap bencana bukan berarti berlari dari kenyataan dan meninggalkan area bencana. Sudah saatnya Indonesia memandang kemajuan teknologi dengan lebih bijak. Kemajuan teknologi seharusnya berarti peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu kemajuan teknologi itu harusnya diperlihatkan dalam persoalan mitigasi bencana. Indonesia harus dapat mencontoh negara-negara maju seperti Jepang. Jepang juga merupakan negara yang memiliki potensi gempa yang besar. Namun, kemajuan teknologi di negara tersebut berdampak positif terhadap tanggap bencana sehingga dapat membantu proses evakuasi serta meminimalkan kerugian materiil maupun moril. Jumlah korban jiwa dapat diminimalkan dengan evakuasi yang cepat setelah ada informasi dari pengamatan secara teknologi. Selain itu, masyarakat juga perlu peka terhadap segala bentuk peringatan yang muncul. Hal ini penting karena selama ini masih terdapat banyak masyarakat yang mengabaikan peringatan dan kemudian menjadi korban dari bencana alam.


Sumber dan Referensi
Biskom. (2012, Juni 11). Peran TI Dalam Bencana. Retrieved from Biskom: http://www.biskom.web.id/2012/06/11/peran-ti-dalam-bencana.bwi
Firdaus. (2016, Maret 26). Integrasi Teknologi untuk Mengurangi Dampak Bencana. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/36365-integrasi-teknologi-untuk-mengurangi-dampak-bencana
Gulakudo, S. (2017, Oktober 23). Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pendidikan dan Pengajaran. Retrieved from Kompasiana: https://www.kompasiana.com/sarifahgulakudo/59ed0bfca01dff1e385251e2/peran-teknologi-informasi-dan-komunikasi-tik-untuk-pendidikan-dan-pengajaran?page=all
Nurlaili, N. (2010, November 13). Peran Teknologi dalam Tanggap Bencana. Retrieved from Oke News: https://news.okezone.com/read/2010/11/13/367/392891/peran-teknologi-dalam-tanggap-bencana

Comments

Popular Posts