Deforestasi : Berhenti Sekarang atau Kapan Lagi?

Deforestasi merupakan proses menebang dan membakar pohon-pohon di hutan serta mengakibatkan adanya perubahan lahan untuk kepentingan oknum tertentu. Hal ini berarti bahwa karakteristik pohon telah berubah. Hingga saat ini, luas hutan dapat mencakup sekitar 30 persen permukaan pada permukaan bumi, tetapi setiap tahun sekitar 13 juta hektar hutan (sekitar 78.000 mil persegi) dikonversi menjadi lahan pertanian atau ditebangi untuk tujuan lain.

Deforestasi merupakan salah satu permasalahan yang cukup krusial yang melibatkan hutan sebagai penghasil oksigen terbesar di bumi. Salah satu fungsi pohon ialah menyerap CO2 dan membantu mengurangi jumlah karbon di atmosfer. Karbon merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global dan pengurangan jumlah zat tersebut dapat membantu mengurangi efek rumah kaca. Permasalahan selanjutnya yaitu penebangan dan pembakaran hutan yang tidak bertanggung jawab. Pembakaran ini dapat melepaskan karbon ke atmosfer, dan melepaskan gas rumah kaca yang berbahaya serta dapat mengurangi jumlah ketersediaan pohon di bumi ini. Hal ini dapat berkontribusi terhadap pemanasan global deforestasi tropis untuk sekitar 20% dari semua gas rumah kaca dan berdampak penting pada ekonomi global.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Hutan Nasional (SIMONTANA) yang dirilis pada awal 2019, terungkap bahwa deforestasi pada 2014-2015 adalah seluas 1,09 juta ha. Angka ini  kemudian turun menjadi 0,63 juta ha pada periode 2015-2016, dan kembali turun menjadi 0,48 juta ha pada periode 2016-2017. Hal ini dikemukakan oleh Siti Nurbaya selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mengklaim bahwa deforestasi di Indonesia terus menurun.

Penyebab Deforestasi

Beberapa penyebab yang paling umum dari peristiwa deforestasi di antaranya adalah globalisasi, urbanisasi, kelebihan penduduk, dan iklim. Globalisasi yang terjadi di banyak negara dapat berdampak pada peristiwa deforestasi. Hal ini dikarenakan, globalisasi berdampak pada pembangunan pabrik dan industri yang menimbulkan adanya gas karbon dioksida yang berdampak pada pohon dan hutan.

Sementara itu, urbanisasi juga mengarah pada deforestasi ketika negara itu mengembangkan penebangan pohon untuk penggunaan bahan bangunan, furnitur, produk kertas, dan bahan yang digunakan untuk jalan raya. Hutan ditebangi untuk mengakomodasi perluasan daerah perkotaan. Selain itu, penebangan pohon yang terjadi di negara berkembang digunakan untuk bahan baku pembuatan kayu bakar atau dapat pula diubah menjadi arang untuk keperluan memasak.

Peningkatan populasi dapat berakibat pada peningkatan jumlah konsumsi kebutuhan produk pohon. Misalnya, kebutuhan utama berupa tempat tinggal dan pangan yang bersumber dari hutan, tentu hal ini membutuhkan jumlah konsumsi dan produksi yang optimal. Populasi berlebihan di negara-negara seperti Cina dan India merupakan suatu contoh di mana negara tersebut memiliki laju deforestasi yang cukup tinggi dibanding negara lainnya.

Iklim juga merupakan salah satu faktor penyebab deforestasi, terutama hujan asam. Iklim tidak hanya mempengaruhi masyarakat tetapi juga pohon, jalan, dan tanaman kecil. Pohon dapat dirugikan oleh adanya fenomena hujan asam. Para ilmuwan mengatakan bahwa hujan asam dapat merusak lapisan luar lilin yang melindungi daun. Ketika hal ini terjadi, kemungkinan besar asam akan meresap ke dalam pohon. Alih-alih air berubah dari cairan menjadi gas di dalam daun dan gas akan menggantikan air. Hal ini berdampak pula pada tanaman yang tidak dapat mengambil karbon dioksida untuk melakukan fotosintesis sehingga tanaman tersebut akhirnya mati.

Efek Deforestasi

Dampak utama yang ditimbulkan dari deforestasi yaitu kerusakan lingkungan, seperti erosi tanah, terancamnya keanekaragaman hayati, serta timbulnya efek sosial.

Deforestasi dapat menyebabkan terjadinya erosi tanah. Hal ini dikarenakan pohon tidak mampu lagi menjangkar dan mengikat tanah sehingga peristiwa longsor terjadi. Lapisan tanah terlindung dari mineral oleh sejumlah besar air. Kurangnya vegetasi juga berdampak pada kelangkaan hewan di daerah tersebut. Sebagian besar nutrisi tersimpan pada pohon dan tumbuhan. Buruknya siklus tersebut akan menimbulkan ekosistem yang terganggu. Selain itu, penebangan pohon juga berdampak pada hilangnya nutrisi penting yang terdapat pada pohon. Dengan demikian, manusia akan kehilangan nutrisi yang terdapat pada pohon untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya pohon dan tanaman, tanah akan menjadi kering dan retak ketika di bawah panas matahari. Menurut statistik, saat ini hampir 80% tanah di hutan tropis tidak subur. Hal ini akan berdampak pada ekosistem yang semakin buruk dan mempengaruhi habitat dan genetik hewan-hewan yang tinggal di hutan tersebut.

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF) hutan di Kalimantan dan Sumatera termasuk dalam 11 wilayah di dunia yang berkontribusi terhadap lebih dari 80% deforestasi secara global hingga tahun 2030. Hal ini disebabkan karena pembukaan lahan pertaniam atau alih fungsi hutan menjadi lahan non hutan. Tentu hal ini akan mengancam ekosistem di dalamnya termasuk fauna dan flora yang tumbuh dan hidup di hutan tersebut. Tingkat kenaekaragaman hayati dapat berkurang akibat peralihan lahan fungsi hutan. Banyak satwa yang mendiami hutan terancam punah seperti harimau, badak, orang utan, dan gajah di hutan Sumatera. Keberadaan satwa yang dilindungi ini semakin hari semakin berkurang, padahal bila keberadaan mereka tidak ada lagi maka ada siklus yang terputus dari ekosistem tersebut.

Deforestasi tidak hanya berdampak pada lingkungan namun dapat berdampak pula pada manusia. . Hal ini didukung oleh banyaknya makhluk hidup yang bergantung kepada fungsi hutan untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari. Deforestasi mengharuskan agar masyarakat dapat beradaptasi untuk dapat bertahan dari situasi yang diakibatkan dari fenomena tersebut. Selain itu, masih terdapat masyarakat adat yang menganggap hutan sebagai habitat utama dan mereka akan menjadi tuna wisma ketika habitat mereka terancam. Sehingga, masyarakat yang tinggal pada daerah tersebut terpaksa harus mengungsi untuk sementara waktu.

Sumber dan Referensi




Nailufar, N. N. (2019, Juli 10). Laju Deforestasi Indonesia Turun, tapi Masih Kedua Terpesat di Dunia. Retrieved from Kompas: https://sains.kompas.com/read/2019/07/10/180600223/laju-deforestasi-indonesia-turun-tapi-masih-kedua-terpesat-di-dunia

Sustarina, Y. (2018, Mei 16). Kenali Keanekaragaman Hayati, Deforestasi Tak Akan Terjadi. Retrieved from Aceh Trend: https://www.acehtrend.com/2018/05/16/kenali-keanekaragaman-hayati-deforestasi-tak-akan-terjadi/



Comments

Popular Posts