Kesalahpahaman bukanlah akhir dari segalanya
“A single moment of misunderstanding is sometimes
poisonous, that it makes us forget the hundred lovable moments spent together
within a minute”
Terkadang hal
terpahit dari sebuah pertemanan adalah kebohongan
Bahkan masalah kecil pun dapat menjadi besar karena
ketidakjujuran ini
Tetapi bagaimana kita tahu bahwa seseorang berbohong?
Apa alasan sehingga kalian merasa yakin?
Bagaimana jika ia tidak berbohong, melainkan hanya
salah paham?
Sedikit cerita. Jujur. Aku bukanlah tipe orang yang pemarah
dan pendendam. Bagiku, orang lain adalah prioritas. I prioritize their happiness
over mine. Jadi, tak apa kalau aku merasa tertekan asalkan orang lain
senang. Mungkin terdengar sedikit menyedihkan. But this is my life being an introvert. Semoga kalian yang senasib denganku bisa mengerti.
Hingga pada suatu hari aku mengalami sedikit pertengkaran
dengan temanku. Mungkin lebih tepat aku sebut sahabat. Ya, sahabatku. Kami
berteman sudah cukup lama. Namun kala itu, kedua diantara kami memutuskan untuk
berjauhan satu sama lain. Kenapa? Apa masalahnya? Bagaimana bisa terjadi? Itu
adalah pertanyaan beberapa temanku yang lain saat itu. Entah bagaimana aku
menjelaskannya. Intinya ada satu keraguan yang aku ragukan saat itu. Ada orang
lain yang membuat kami bertengkar. Ya pokoknya ada.
Hampir seminggu aku bersifat dingin kepada sahabatku sendiri.
Aku tidak tahu mengapa aku menjadi berubah seperti ini. Aku yang awalnya tidak
pernah marah dan selalu riang, seketika aku menjadi jutek. Begitu juga
dengannya. Sahabatku yang tadinya selalu riang dan tertawa dia juga menjadi
diam seribu bahasa. Seakan-akan kedua diantara kami menyembunyikan suatu
perasaan yang mungkin tidak akan kami ungkapkan satu sama lain. Rasanya aneh.
Kami yang biasanya selalu bercanda bersama dan selalu tertawa tiba-tiba saling
berjauhan.
Jujur, aku benar-benar merasa kehilangan. Aku ingin seperti
dahulu lagi. Bisa berteman seperti sedia kala. Tapi aku belum bisa
memaafkannya. Sungguh tidak habis pikir bahwa ia mengkhianati temannya sendiri.
Perasaanku saat itu?campur aduk. Sedih, sakit hati, kecewa, marah, kesal.
Lagipula saat itu dia juga tidak meminta maaf kepadaku. Bahkan menyadari
kesalahannya juga tidak.
Seiring berjalannya waktu. Akhirnya dia memutuskan untuk
meminta maaf. Walau aku masih kesal. Tapi kami berusaha untuk membicarakannya
baik-baik. Sama sekali tidak menggunakan bahasa kasar ataupun sambil
marah-marah. Karena menyelesaikan masalah dengan baik diawali dengan berbicara
yang baik pula. Tapi tidak semudah itu. Semuanya tidak bisa pulih secepat itu.
Tidak ada bukti yang bisa membuatku kembali memberikan kepercayaan dulu lagi.
Jadi aku masih memutuskan untuk berdiam diri. Menunggu saat yang tepat agar aku
yakin dengan keputusanku. Dan yang lebih menyebalkan saat itu adalah dia tidak
sepenuhnya sadar dengan kesalahannya. Melihat tingkah lakunya saja aku sudah benar-benar muak.
Lalu tak lama kemudian aku semakin merasa gelisah. Karena tidak biasanya
aku bersikap seperti ini. Ada beberapa hal yang aku pikirkan saat itu :
1. Setiap manusia memiliki
kebaikan dan keburukan. Tak ada salahnya aku memaklumi keburukan yang ia punya
2. Aku tidak mau kehilangan teman
yang biasanya selalu mengisi hari-hariku menjadi lebih menyenangkan
3. Rindu. Semakin hari aku
semakin merasa aku benar-benar merindukan masa-masa kami yang penuh canda tawa
4. Aku tidak mau pertemanan kami berakhir
seperti ini. Hanya karena adanya keraguan dan kesalahpahaman
Setelah itu sedikit demi sedikit aku mulai berbicara kepadanya. Aku mulai
kembali percaya lagi kepadanya. Walaupun aku tahu ia pernah membohongiku tapi
aku berusaha untuk melupakan itu. There is a positive side to
everything. It just takes a positive mind to see it. Buanglah segala
pikiran negatif ke orang-orang terutama orang terdekatmu. Belajarlah dari
kesalahan. Even salt looks like a sugar. But both of them
have their own taste.
Dan setelah kejadian itu aku merasa sangat lega. Dan apapun yang
terjadi just let it flow. Because if you’re broken, you
don’t have to stay broken. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan.
Belajar untuk mengikhlaskan lebih baik daripada memaksakan sesuatu yang sulit.
Teruntuk kalian yang sedang atau mungkin pernah mengalami hal yang serupa.
Ingatlah bahwa.
When nails grow long,
We cut nails not finger.
Similarly when misunderstanding grow up,
Cut your ego not your friendship.
Have a nice day!
Comments
Post a Comment